Aku Pergi

Friday, May 13, 2016

Aku Pergi

Cerpen Karangan: Novi Nuraisyah

Mataku terpejam merasakan rintikan gerimis yang menyerbu di atas kepalaku, Hembusan angin selalu membuatku tenggelam dalam kesepian, desir angin pula yang bisa membuatku bersemangat untuk menempuh cerita hidupku. Inilah yang aku sukai, gerimis pagi yang bisa membuat memori otakku jernih kembali.

“Ariiinnn… sini Nak!” suara yang tak asing lagi di telingaku, ibuku. Tanapa menyahut, aku pun langsung menuju dapur menemuinya. “Arin tolong antarkan pesanan kue ini ke warung Pak Haji Mamat, ya. Sekalian kamu sekolah, Ibu mau langsung ke pasar membeli bahan untuk kue. Kamu udah sarapan? Jangan lupa minum obatnya.”
“Iya Bu, Arin udah sarapan sama minum obat kok, sekarang tinggal berangkat,” sahutku tak lupa mengucapkan salam seraya tersenyum meninggalkan ibu dan pergi ke warung Haji Mamat.

Singkat saja. Namaku Arin. Aku tinggal hanya bersama ibu. Ayah pergi karena tidak terima atas penyakitku dan tidak ingin membiayaiku untuk berobat, hingga mulai saat itu ia tak pernah menafkahi kami dan ibu yang menjadi tulang punggung untuk membiayai hidup kami. Keluargaku sangat sederhana meskipun begitu, aku masih tetap bersyukur karena telah dikirimkan seorang ibu yang tak pernah mengeluhkan takdir Tuhan. Mungkin aku tidak akan menemui lagi hari seperti pagi ini, tenang perasaanku dan jernih pikiranku. Pokoknya terasa sempurna sekali menikmati hidup, serasa tak mempunyai beban sedikit pun dalam diriku.

Kriiiinngg… kriinngg… kriinngg!! Lonceng sekolah pun membuyarkan lamunan manisku di bawah pohon pinus taman sekolah. “Andre tungguin gue!!” tanganku melambai pada Andre, tak lain adalah teman sekelasku.

Istirahat.
“Kenapa, Rin? kamu kesiangan?” tanya Andre.
“Nggak Dre, gue tadi cuma sedang ngelamun aja di taman,” jawabku.

Sesaat setelah kami berbincang-bincang, Andre melihat darah bercucuran dari hidungku, ia pun panik dan segera mengelapnya menggunakan tissue.
“Udah Dre gue gak apa-apa, cuma mimisan doang. Kamu udah biasa lihat kan. Gak usah panik,” ujarku.
“Nggak Rin, aku tahu ini bukan mimisan biasa, kamu itu sakit. Aku tahu udah setahun ini kamu mengkonsumsi hydrea dan jenis obat itu untuk orang yang leukemia Rin, aku tahu itu,” tukas Andre dengan mata yang tajam namun berlinangan air mata.

Melihat tatapan matanya aku hanya bisa diam, karena Andre sudah mengetahui penyakit yang sudah bersarang di tubuhku selama satu tahun ini, padahal aku berusaha untuk menyembunyikan semuanya pada sahabatku. Di perjalanan pulang. Langkahku terhenti saat ku lihat ada seorang anak laki-laki berkepala pelontos terjatuh dari sepedanya, aku mendekatinya berupaya untuk membantunya berdiri.

“Ade gak kenapa-kenapa kan? Mana yang sakit?” tanyaku.
“Aku gak kenapa-kenapa, Kak. Kakak udah cantik, baik lagi. Aku Satria. Nama Kakak siapa?” tanya anak itu seraya tersenyum lalu menjabat tanganku.
“Satria. Hmm.. nama yang bagus, Satria juga cakep kok, rumah Satria di mana? Nama Kakak Arin, panggil aja Kak Arin. Rumah Satria di mana? Kakak pengen tahu dong. Boleh kan?” tanyaku seraya tersenyum padanya.
“Aku tinggal di sana Kak, di asrama anak leukimia. Di sana banyak temen-temen Satria Kak, pada baik juga loh, Kakak boleh kok main ke sana.”

Mendengar jawaban polosnya, aku tak percaya bahwa dia mengidap kanker mematikan itu, seperti halnya sama denganku, tetapi dia tidak memperlihatkan kesakitannya, dia terlihat periang tanpa merasakan beban sedikit pun layaknya anak normal lainnya. “Oke Satria cakep. Kakak mau pulang dulu ya, kayaknya bentar lagi hujan deh, Satria juga harus pulang ya,” kataku sambil mengelus kepala pelontosnya. Ia pun mengangguk dan mulai meninggalkanku dan melambaikan tangannya. Aku terus memperhatikan dia sampai akhirnya terlihat sangat jauh beserta sepeda mininya.

“Arin pulang Buu…” aku pun membuka pintu rumah dan segera menuju dapur untuk membantu ibu membuat kue.
“Udah Nak, Kamu istirahat aja. Nanti kamu kecapean, ini biar iIbu aja yang buat,” kata ibu dengan tangan sedang memegang wadah.
“Udah Bu, Ibu jangan cerewet yaa, masa cuma masukkin kue ke oven aja Arin kecapean, ini gak seberapa Bu. Ibu pasti seneng kan ditemenin bikin kue sama anak Ibu yang cantik ini, hehehe,” dengan sedikit candaku, aku meraih wadah adonan dari tangan ibu dan memasukkannya ke oven.

Ibu hanya tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar kata-kata konyolku itu. Siang ini, aku berencana untuk menemui Satria AAL (Asrama Anak Leukemia), aku berencana mengajak Andre. Di perjalanan aku menceritakan tentang Satria pada Andre.

“Kak, ini siapa? Kenalin dong sama Satria,” dengan senyumnya Satria menjabat tangan Andre.
“Panggil aja Kakak, Kak Andre. Kakak ini sahabatnya Kak Arin. ini Satria ya?” jawab Andre
“Iya Kak. Oh Kakak sahabat kak Arin ya,” tukas Satria seraya mengajak kami masuk ke rumah tempat dia dibesarkan, dia juga mengenalkan kami pada seorang pengurus di sana, sementara itu, Satria pergi ke tempat bermain sederhana di halaman yang disediakan panti tersebut.

Ibu itu menceritakan sedikit tentang Satria yang ditinggal ibunya sejak dia masih bayi, ibunya meninggal karena leukemia akut yang dideritanya. Ia berpesan agar Satria dirawat dan dibesarkan di panti ini. Satria divonis kanker jenis limfositik leukimia akut pada umur 3 tahun kini usianya menginjak 6 tahun. Sudah hampir 2 bulan aku selalu mengunjungi panti itu. Selain Satria, aku juga mulai akrab dengan anak-anak di panti. Aku selalu menjatuhkan air mata, kala melihat semangat anak-anak penderita kanker itu bermain, seakan-akan mereka tidak merasakan kesakitan yang amat sakit pada diri mereka. Hingga pada suatu hari, aku melihat Satria terbaring lemah di tempat tidurnya, berbeda jauh dengan fisiknya yang kemarin, ia lebih kurus, pucat, dan napasnya pun terdengar sesak sekali.

“Satria kenapa? Satria pasti kuat melawan semua ini! Satria dengar Kakak,” air mataku tak dapat dibendung lagi melihat kondisi Satria yang sangat lemah.
“Sat… ria ssaayang Kak Ar.. rin,” Satria menggenggam tanganku disertai air mata yang mengalir lembut ke pipi anak itu. Tiba-tiba genggamannya melonggar dan tangannya pun terkulai lemah dengan darah yang cukup banyak mengalir dari hidungnya. Aku pun sontak panik dan berlari menemui ibu pengurus panti itu agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan dengan segera membawanya ke rumah sakit. Sembuhkanlah Satria Tuhan.



“Wooyyy… kata Pak Salim hari ini di tes lari 2,4 kilo di lapang belakang sekolah. Semuanya wajib tanpa terkecuali!” kata ketua murid di kelasku.
“Rin, kamu gak boleh ikut lari ya, kondisi kamu lagi gak fit, biar aku minta izin ke Pak Salim,”
“Gak apa-apa Dre, aku kuat kok,” jawabku.
Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa sangat pusing, penglihatanku pun mulai buram, darah mulai ke luar dari hidungku. Aku bersyukur karena Andre tidak melihatku, aku pun buru-buru mengelap darah dari hidungku.

“Kamu yakin mau ikut tes?” tanya pak Salim.
“Iya Pak, saya yakin,”
“Kalau gitu kamu pergi ke lapang belakang dan gabung sama yang lain!”
“Rin, kamu kok ngeyel sama aku sih? Gimana kalau pas lari penyakit kamu kambuh? Aku khawatir, Rin,” Andre meminta agar aku mengurungkan niat untuk ikut tes.
“Nggak Dre, gue harus punya nilai, gue malu dilihatin orang-orang, olah raga itu berkeringat di lapang, gue malu kalau cuma duduk aja. Pokoknya gue mau ikut tes!” jawabku seraya meninggalkan Andre dan pergi ke lapangan belakang.

Dengan napas kembang-kempis. Aku mencoba untuk berlari mencapai garis akhir tes lari. Belum juga sampai, tiba-tiba ku rasakan tubuhku melemas, penglihatanku juga mulai kalang kabut, dengan wajah kesakitan, aku yakin bahwa aku masih bisa berlari tetapi kehendak berkata lain. Aku terjatuh dan langsung tak sadarkan diri, aku juga tidak tahu apa lagi yang terjadi.



Aku mencoba membuka mata, namun terasa sangat berat, aku melihat di sampingku ada ibu dan Andre.
“Kamu sudah sadar sayang? Alhamdulillah, terima kasih ya Allah,” kata ibu dengan raut wajah tegang disertai bahagia. Andre juga ikut tersenyum.
“Bu, Arin di mana Bu?” tanyaku dengan suara lemah dan mulut memakai selang oksigen.
“Ini di rumah sakit sayang, 2 hari kamu koma. Kamu bikin Ibu khawatir,”
Andre hanya terdiam, mungkin ia kesal karena nasihatnya kemarin tidak aku respon.
“Andre maafin aku ya, aku udah ngeyel sama kamu,”
“Nggak, kok Rin. Aku gak marah sama kamu. Semuanya udah terjadi, ini udah takdir,” kata Andre seraya tersenyum padaku.

“Bu, Arin boleh minta sesuatu?” tanyaku. Ibu mengangguk dan mengusap air matanya yang terus berjatuhan membasahi pipinya. “Arin pengen ke asrama anak leukemia Bu, Arin pengen tengok Satria. Siapa tahu aja dia udah pulang dari rumah sakit. Bolehkan Bu?” sedikit memaksa.
Ibu pun meminta izin pada dokter. Dokter mengizinkanku untuk pergi ke sana dengan didampingi suster dan Andre untuk membantuku menggunakan kursi roda. Saat tiba di sana, aku meminta Andre dan suster untuk membiarkanku masuk ke dalam sendirian dan mereka hanya menunggu di luar sampai aku puas menjenguk Satria.

“Bu, Satria mana? Dia udah pulang kan?” aku bertanya pada ibu yang mengurus Satria.
“Dia udah pulang. Iya.. dia udah pulang 2 hari yang lalu,” jawab ibu itu dengan mata yang menahan air mata.
“Sekarang dia di mana? Arin kangen banget sama Satria Bu,” aku pun tersenyum bahagia mendengar itu.

Wanita paruh baya itu membantu langkahku. Aku berjalan ke satu ruangan, hingga akhirnya berada di ruangan. Di sana terpajang foto-foto anak-anak pengidap penyakit leukemia yang telah meninggal. Aku tatap mulai dari awal hingga ke akhir. Wajah-wajah lucu yang kini hanyalah sebuah gambar membiaskan senyum-senyum indah di bibir mereka. Foto-foto itu terus ku lihat hingga akhirnya tiba di ujung. Di saat itulah tubuhku bergetar kuat. Dadaku sesak dan pikiranku kacau. Kantung air mataku seolah mendapat sinyal dari otak.

Saat itulah hormon-hormon air mataku berproduksi, semakin banyak, banyak dan banyak hingga akhirnya menitik membentuk sebuah anak sungai di pipiku. Telapak tangan ku remas, pandanganku menjadi lesu, menatap sebuah gambar yang tak asing lagi bagiku. Anak itulah yang selalu dekat bersamaku, menemani kesendirianku. Membuatku tertawa atas humornya yang selalu berbagi kebahagiaan kepada orang-orang di sekitarnya. Aku tatap dengan teliti karena mataku mulai kabur tertutupi air mata. Dengan lirih, mulutku mengatakan sebuah nama, sulit memang, tapi tetap ku paksakan.

“Sa-satria…”

Ya… Satria. Adik kecil yang baru kemarin bersamaku kini hanyalah sebuah foto yang dipampang di dinding sana. Apakah ini yang disebut pulang? Aku teringat kata-kata yang sempat ia ucapkan kemarin. Pikiranku kacau, ku tatap dalam matanya, wajah lesu namun berseri itu turut menatap mataku. Aku menangis dan bersedih, kehilangan seorang adik yang sangat bersemangat seperti dia. Aku tak sanggup, namun tetap ku balas senyumannya, pada sebuah foto yang baru saja dipampang itu. Menit terus berlalu, dua suster dan Andre sedang menantiku di luar sana. Pertanda aku harus secepatnya pulang. Aku cium fotonya berharap suatu saat nanti bisa bertemu lagi dengan anak-anak lain yang memiliki semangat seperti dia.



“Lambaikan tangan untuk kakak-kakaknya!!” sahut guru-guru panti memberikan aba-aba kepada anak-anak di sana.

Kami hanya tersenyum dari balik jendela. Kami lambaikan tangan dan ucapan terima kasih yang sangat karena telah memberikan sarana bagi kami di sini. Menit pun berlalu, saatnya kami pergi, seiring mulai bergeraknya mobil kami. Lambaian anak-anak semakin cepat melepas kepergian kami yang mulai bergerak menjauh dari panti. Aku tatap anak-anak yang mulai menangis melepas kepergian kami. Satu per satu ku tatap muka mereka hingga seluruh suasana hilang, karena sesaat setelah itu, tiba-tiba aku tak sadarkan diri. Aku sempat meminta pada Andre agar ia bisa menemukan ayah. Andre pun bergegas pergi mencari ayah. Tidak lama kemudian Andre menemukan ayahku yang tak jauh dari rumah sakit, pakaiannya sangat compang-camping, sedang mengorek-ngorek makanan sisa di tong sampah.

“Om Latif? Ini benar Om Latif Santoso kan?!” sepertinya pertanyaan Andre mengagetkannya, ayahku sontak kaget kemudian berlari menjauh darinya. Andre pun mengejarnya sampai akhirnya laki-laki tua itu berhenti. “Ada urusan apa kamu dengan saya?” tanya ayahku dengan bibir gemetar.
“Om, Arin Om.. Arin sekarat di rumah sakit, Arin butuh Om untuk pertemuan yang terakhir kalinya,” mendengar kata-kata Andre, pria paruh baya itu meneteskan air mata kemudian berteriak histeris, “Arin.. Ariiinn.. anakku, Ayah kangen kamu Nak. Ayah menyesal. Maafkan Ayah,”
Andre pun segera mengajaknya ke rumah sakit untuk menemuiku di ruang ICU.



Hari ini, aku merasa sangat lemah. Detik demi detik terlewat begitu terasa. Inikah saatnya aku pergi? Detak jantungku semakin lama semakin lambat, semakin lama semakin sulit untukku menghirup udara. Aku tiba-tiba merasa gelap dan tak berdaya. Terdengar suara isak tangisan dan aku melihat badanku terbaring tanpa nyawa. Rohku pergi dari badanku. ibu menatap badanku dengan tangisan yang sangat kencang, ayah sosok yang begitu sangat baru ku lihat menangisi diriku, aku ingin memeluknya tapi aku tak sanggup.

“Rin, sekarang kamu sudah pergi, kamu sudah tenang di sana, aku sayang banget sama kamu, Rin. Gadis cantik yang sangat ku sayangi kini pergi dan meninggalkan aku selamanya. Asal kamu tahu, Rin. Aku benar-benar menyesali semua ini, aku tahu kamu sakit seperti ini setelah kamu sudah semakin parah. Persahabatan kita tak akan pernah putus kan, Rin? Iya kan? Jangan lupakan aku ya, Arin. Aku selalu menyayangimu dan selamanya menyayangimu. Makasih ya, kamu sudah jadi malaikat paling cantik yang berhasil membuat aku tersenyum di sisa hidup kamu hingga menutup mata. Aku pasti rindu sama kamu, Rin. Selamat jalan ya Arinna Kayla Santoso, sahabatku tersayang,” Andre menangis sambil mengelus badanku yang tidak bernyawa lagi.

“Aku juga sayang Ibu, Ayah, dan kamu Dre. Selamat tinggal semuanya,”