Jomblo Fisabilillah

Monday, October 3, 2016

Jomblo Fisabilillah

Cerpen Karangan : Riani

“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah”
(Hadist Riwayat Muslim)

Itulah sepenggal hadis yang selalu terngiang-ngiang di telingaku, dan menjadi wanita solehah adalah impianku. Sahabat fillah… perkenalkan namaku Fatimah, aku mahasiswa jurusan bahasa Inggris di Universitas Padjajaran, Bandung. Sedikit sharing nih, sejak kecil aku sudah dididik oleh ibu dan ayahku untuk menjadi anak yang sholeh. Mereka pun memupuk nilai-nilai agama agar aku tumbuh menjadi pribadi yang religius.
Dan kini aku pun tumbuh menjadi sosok wanita yang mungkin berbeda dari remaja seusiaku. Mungkin aku hanyalah salah satu atau mungkin hanya aku dari sekian banyak remaja yang belum merasakan apa itu pacaran. Yaah… kedengerannya emang aneh banget, dijaman ini memang pacaran telah dianggap lumrah oleh sebagian masyarakat. Akhirnya banyak persepsi orang mengenai prinsipku. Tak jarang ada ibu-ibu yang mencemoohku dengan perkataan, “Mungkin gak laku, jadi gak ada cowok yang mau deket sama dia.” Tak jarang pula, teman-temanku pun selalu menyinggung tentang masalah ini,
“Iiih takut jadi perawan tua tau kalau gak punya-punya pacar.”
“Iyaaa… Padahal cantik tapi kok gak punya pacar!?”
Lama-lama aku pun merasa risih dengan perkataan orang-orang mengenaiku. Imanku saat itu memang masih mudah goyah dan gampang terpengaruh perkataan orang. Akhirnya, hal itulah yang membuatku mulai berani membuka hati kepada ikhwan yang tengah mendekatiku.

Saat itu aku tengah dekat dengan seorang ikhwan yang bernama Doni. Dia teman seoraganisasiku di BEM. Dalam organisasi ini, aku menjadi ketua di departemen Agama, sedangkan dirinya menjabat posisi tertinggi di organisasi ini yakni Presiden Mahasiswa. Banyak akhwat yang mengaguminya termasuk aku. Kulakukan hal ini diam-diam, termasuk ayah dan ibu pun tak mengetahuinya.

Suatu malam dia meneleponku.
“Assalamualaikum ukhti”
“Waalaikumsalam. Ada apa ya kak?”
“Gak ada, aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat, boleh?”
“Oh, iyaa boleh kak.”
“Besok ada waktu senggang gak?”
“Mmmm… Bukannya besok rapat kegiatan Maulid Nabi kak?”
“Oh iya.. kakak lupa. Ya sudah, sampai jumpa di rapat besok ukhti”
“Iya kak”
Betapa hatiku saat itu sangat berbunga-bunga, rasanya tuh kayak meluncur dari pelangi yang warna warni dan terjatuh di tumpukan awan-awan yang lembut. Haha, konyol! Rasanya tak sabar untuk bertemu dengannya besok.

Esok pun tiba, tepat pukul 13.00 sehabis sholat dzuhur aku menuju Ruang BEM. Disana kulihat kak Doni dan teman-temannya tengah asyik bercanda. Saat itu tak sengaja aku mendengar pembicaraan mereka.
“Bay the way… gimana usaha kamu deketin Fatimah bro?”
“Sukses dong, bentar lagi juga luluh.”
“Waah… bakal makan-makan dong nanti?”
“Tenang aja bro, kalau aku menang taruhan aku traktir kalian deh.”
Seketika itu aku syok mendengar ucapannya, ternyata selama ini dia mendekatiku hanya ingin menang taruhan. Saat itu kak Doni belum sempat melihatku, aku pun beranjak pulang dan meninggalkan kelas. Betapa hancurnya hatiku saat mendengar pengakuannya, betapa bodohnya aku yang telah mengagumi ikhwan seperti Doni. Aku amat sangat menyesal telah mengenal yang namanya pacaran, dan aku malu padaMu yaa Allah. Saat itu kuteringat impian kecilku untuk menjadi wanita sholehah. Aku merasa sangat berdosa telah mengkhianati amanah kedua orangtuaku. Sejak saat itu pula aku keluar dari organisasi BEM. Setiap malam kak Doni selalu menghubungiku, baik telpon, sms, atau BBM pun tak ada yang ku balas. “Kuharap kak Doni menyadari kesalahannya.” bisikku dalam hati.

Itulah sepenggal kisah kelamku ketika mengenal pacaran. Yah… kejadian ini membuatku sadar, betapa Allah itu maha pengasih dan penyayang pada umatnya. Kini aku lebih melilih bermuhasabah untuk menjemput jodoh terbaik yang akan Allah kirimkan untukku. Aku pun tak peduli dengan cemoohan ibu-ibu rempong yang senantiasa membuliku. Biarlah semua berjalan sesuai sekenarioNya. Dan mulai saat ini aku berprinsip untuk menyandang gelar Jomblo Fisabilillah.

Suatu pagi yang cerah menyambut hariku, burung-burung berkicau riang dan menari dari ranting ke ranting lainnya. Kubuka jendela, tampak warna-warni pelangi menghiasi langit kota Bandung pagi ini. Rasanya hari ini aku amat bersemangat.
Tiba-tiba ponselku bordering, satu pesan masuk.
Mamah: Semangat yah nak kuliahnya. Do’a ayah dan ibu menyertaimu.
Aku: Terimakasih pah, mah. Fatimah akan berjuang meraih yang terbaik.
Air mataku menetes saat kata demi kata itu ku baca. Aku amat senang sekali menerima pesan semangat dari kedua orangtuaku.

“Gubrak…!!”
Tiba-tiba seorang laki-laki berkacamata menabrakku.
“Maaf gak sengaja.”
“Iya kak gak apa-apa”
“Sekali lagi maaf yah.”
“Yah, nyantai aja kak.”
“Oyah, boleh tahu namanya?” sambil mengulurkan tangannya, namun aku tak meraihnya dan hanya menyimpan tanganku di depan dadaku.
“Aku Fatimah Azahra, maaf aku ada kuliah jam 08.00 kak. Aku harus segera masuk kelas. Assalamualaikum.” Kulihat dia nampak malu akan sikapku tadi.
“Waalaikumsalam ukhti.” Sambil tersenyum.

Dan saat tiba di depan kelas, suasana ramai masih terdengar dari dalam kelas itu. Ternyata pak Wahidin belum datang. Bersyukur aku panjatkan padaMu ya Allah. Aku pun duduk di bangku paling depan dekat sahabatku Aisyah. Tak lama kemudian, orang yang menabraku tadi masuk ke kelas yang sama dan tiba-tiba mengucap salam. Semua mahasiswa pun tertegun, mereka bingung, aku apalagi. Kukira dia mahasiswa baru, namun ternyata dia adalah dosen pengganti dari mata kuliah pak Wahidin. Namanya kak Ali, usianya masih 25 tahun. Dia lulusan kampus ini juga. Dulu dia adalah mahasiswa kumlot dengan nilai IPK yang hampir sempurna, akhirnya dia pun direkrut menjadi dosen di kampus ini. Begitulah yang ia sampaikan ketika sesi perkenalan

“Subhanallah… udah ganteng, pinter lagi. Jadi ngefans nih.” Bisik Aisyah padaku.
Aku hanya memandangnya heran dengan tersenyum kecil, dalam benakku terbesit “Andai jodohku seperti kak Ali. Astagfirullah Fatimah.. stop think about it!!”

Saat perkuliahan berlangsung kak Ali melontarkan sebuah pertanyaan, namun tak ada seorang pun yang bisa menjawabnya. Sesekali kak Ali melirikku, dan tiba-tiba saja kak Ali menyebut namaku.
“Fatimah? Apakah kau bisa jawab.”
Dan dengan spontan teman-teman sekelas pun bersorak-sorai ketika kak Ali mengetahui namaku. Kak Ali nampak malu saat hal itu terjadi, kiranya dia tak sadar bahwa dia baru pertama ini mengajar namun sudah tahu namaku. Namun suasana itu reda saat aku menjawab mampu pertanyaannya.
“Ya, jawabanmu sempurna.” Ujar kak Ali.

Hari ini rasanya aku amat senang sekali, entah apa yang membuatku begitu senang. Mungkinkah ini karena aku bertemu dengan kak Ali? Astagfirulloh… sadar Fatimah kou harus tetap istiqomah jadi jomblo fisabilillah (aku menguatkan diriku).

Sejak saat itu, setiap kali bertemu kak Ali dia selalu menyapaku. Aku pun tak sungkan untuk menanyakan materi-materi yang aku belum mengerti padanya. Hingga akhirnya kami pun saling mengenal dan lebih akrab. Saking akrabnya dia memanggilku dengan sebutan ukhti yang dalam bahasa Arab artinya saudara perempuan. Hubungan kami hanya sebatas simbiosis mutualisme, tepat sekali hubungan yang saling menguntungkan.

Suatu malam, kurebahkan tubuhku di atas kasur. Tiba-tiba ponselku berdering, satu pesan telah diterima dari kak Ali.
Ukhti, Laa tansiyan bil hafidz
Of course, thank you,
God protect you
Tak banyak yang kami bicarakan bila di sosial media.

Malam pun mulai larut, mataku perlahan terpejam di samping buku-buku yang bertebaran di kasur bekas belajar. Alarmku berbunyi, tepat pukul 03.00 dini hari aku terbangun untuk melaksanakan sholat malam. Dalam sujudku aku berdo’a agar aku selalu dimudahkan untuk meraih cita-cita menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat. Tak lupa kuselipkan do’a agar Allah menganugerahkan jodoh terbaik dalam hidupku. Seusai sholat, aku pun tertidur kembali.
“Assolatuhoiruminannaum…”
Adzan subuh menggema di sudut-sudut kota Bandung. Aku terbangun kembali untuk melaksanakan sholat subuh berjama’ah di asrama.

Mentari mulai merangkak menunjukan sinarnya. Hari ini aku amat tak sabar untuk pulang ke kampung halamanku di Pangandaran. Saat hendak menuju terminal, kak Ali tiba-tiba menemuiku. Saat langkah kakiku mulai menaiki bus raut wajah kak Ali nampak bingung. Tiba-tiba dia berkata, “Take care ukhti… semoga selamat sampai tujuan.”
“Iyaa kak, syukron.”
Dan saat kududuk di kursi mobil kubuka ponselku. Ada sebuah pesan dari kak Ali.

Ukhti, tunggu aku di rumahmu.

Aku bertanya-tanya dalam hatiku.. mau apa kak Ali kerumahku? Mungkinkah dia adalah jawaban atas do’aku?