Selamat datang 'kesibukan' pada dunia mu yang secara langsung
mempengaruhi semestaku, selamat menempuh semuanya, sayang. Walau aku
terlalu cemburu saat kamu selalu berdampingan mesra dengan kesibukanmu.
Walau aku terlalu iri saat kamu lebih mementingkan kesibukanmu. Atau aku
yang terlalu merasa kesepian saat kamu menikmati harimu dengan
kesibukanmu itu. Namun tak bisa ku hindari aku bangga padamu, aku bangga
kamu bisa menjadi apa yang kamu harapkan. Senyumku mengalahkan sabitnya
bulan untuk kebanggaanku padamu. Namun sangat di sayangkan, seandainya
kamu bisa membagi waktu dan rasa di sela-sela kesibukanmu pasti aku
rasa aku adalah wanita yang beruntung mempunyaimu.
Kamu, ya kamu di sela-sela kesepianku tanpa sosokmu yang seperti dulu.
Ada sebutir harapan terakhir yang kuharapkan. Yah, aku hanya berharap
kamu selalu bahagia dengan kesibukanmu. Walau aku merasa hampa. Aku
tak bisa menekanmu kali ini yang bisa aku lakukan adalah menekan diriku
sendiri untuk memaklumi segala aktivitas mu sekarang. Walau ada pepatah
yang bilang "Kalau ada orang yang tulus mencintaimu, sesibuk apapun kondisinya. Dia akan selalu menjadikanmu prioritas utamanya". Awalnya
kalimat ini membungkam ku. Membuat ku terdiam sejenak, yah kali ini tak
ku pungkiri aku takut. Aku takut sebenarnya dia mencintaiku apa tidak?
Terbesit pertanyaan bodoh itu yang memang patut dipertanyakan.
Memang aku harus overdosis dengan obat yang namanya kesabaran. Saat ini,
aku hanya perlu menunggu. Menunggu dia melepaskan kesibukannya. Lalu
kembali seperti dulu. Memang hanya waktu yang dapat mennjawab pertanyaan
bodoh tadi. Semoga waktu menjawab "dia memang mencintaiku". Aminn
Dalam diri, akan selalu kutemani kamu dengan doa. Akan ku perbincangkan
pada Tuhan untuk kesuksesan mu nanti. Aku hanya perlu bersabar selangkah
lagi. Dan ku harap kamu datang kembali dengan pelukan hangat. Satu
kata, semangat untukmu. Sayang. :)