Masa Lalu Menghancurkannya

Friday, January 29, 2016

Masa Lalu Menghancurkannya

Cerpen Karangan : Cahya Prana W. U

Banyak yang beranggapan bahwa masa putih abu-abu adalah masa yang paling indah. Ada juga yang beranggapan bahwa masa putih-putih abu adalah hal yang biasa-biasa saja dalam hidupnya. Namun sebenarnya, masa putih abu-abu adalah masa dimana setiap insan manusia memasuki tahapan puncak suatu indahnya kehidupan di masa remajanya. Dimana di sana terdapat kenangan-kenangan indah yang mereka ukir dalam setiap detiknya. Terutama sebuah kenangan Cinta yang amat indah. Hembusan yang dibarengi terpaan angin kasih sayang yang dirasakan bagi kedua insan yang melakukannya.

Indahnya ‘Cinta’ pada masa ini adalah hal yang paling tak terlupakan selama hidup kita. Namun Cinta akan sirna jika masa lalu dari kedua insan atau salah satunya datang untuk menghancurkan. Seperti itulah yang dirasakan oleh Tama. Seorang siswa cowok yang saat itu bersekolah di kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa. Tama adalah cowok yang biasa-biasa saja, dia tidak pintar juga tidak bodoh. Namun dia memiliki paras yang di atas rata-rata dibandingkan dengan teman satu sekolahnya. Tama juga merupakan kapten tim basket di tempat ia menuntut ilmu ini. Hal inilah yang membuat Fina, nama dari seorang siswi cewek yang paling berkesan di hati Tama tertarik untuk memilih Tama sebagai pacarnya.

Tring… triing… triiing… suara dering handphone yang seketika membuat Tama terbangun dari tidurnya dan melihat handphone yang membangunkan tidurnya itu. Ternyata suara handphone itu adalah telepon dari Fina. “Halo.” Suara Tama saat mengangkat telepon dari Fina.
“Cepetan bangun yang. Udah siang ini loh.” jawab Fina.
“Iya-iya ini udah bangun kok aku. Kamu itu cepetan mandi yang.” Jawab Tama yang masih susah membuka matanya.
“yeeee, aku udah mandi ini yang. Oh iya, entar kamu jemput aku ya.” jawab Fina pada Tama.
“loh, gak bilang dari tadi malem kamu ini. Ya udah aku mandi dulu yaaa.” jawab Tama sambil begegas bangun menuju kamar mandi. “haha biar kamu kaget kok. Ya udah ceptan mandi.” Jawab Fina dengan sedikit ketawa lalu mematikan teleponnya.

Waktu itu telah menunjukkan pukul 06.45 yang artinya 15 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Namun Tama tidak merasa gugup malah ia bersantai-santai karena pada hari itu hanya ada kegiatan bersih-bersih dan merupakan hari terahir ia sekolah sebelum liburan semester ganjil. Tama pun bersiap untuk menjemput Fina di rumahnya. Selang beberapa menit kemudian Tama sudah sampai di depan rumah Fina dan ternyata Fina telah menunggu Tama di depan rumah dengan wajah yang sedikit cemberut.

“kamu ini ke mana aja kok lama?” tanya Fina pada Tama dengan wajah cemberut.
“maaf sayang, aku tadi kan baru bangun jadi ya agak lama. Lagi pula di sekolah juga santai-santai jadi ya gak apa-apa kalau kita telat.” jawab Tama dengan menenangkan amarah pacarnya itu. “iya sudah, ayo berangkat kalau gitu.” dengan wajah yang masih cemberut Fina naik di sepeda yang disetir oleh Tama.
“heheh iya non. Sudah siapkah?” jawab Tama yang sedikit bertanya sambil ketawa pada Fina.
“iya sudah siap bawel.” Jawab Fina pada Tama “ayo berangkat!”

Selang beberapa menit kedua pasangan itu pun sudah sampai di tempat mereka menuntuu ilmu. Seperti halnya film-film yang ada di TV, saat mereka akan masuk ke sekolah, mereka pun menjadi perhatian banyak orang di sekolahnya. Karena mereka selalu berjalan beriringan layaknya putri keraton dan pangerannya. Di setiap ada Tama pasti di situ ada Fina. Hampir setiap waktu di sekolah mereka habiskan bersama. Namun waktu bersama teman pun ada tersendiri buat mereka. Jadi mereka terkadang juga bersama teman-teman di sekolahnya tapi waktu itu tidak selama waktu saat mereka berdua bersama.

Acara bersih-bersih pun di sekolah itu telah usai. Dan kelas pun sangat ramai karena antar siswa di kelas itu bercakap-cakap mengenai kemana mereka akan liburan. Dan di antara mereka seperti ingin bergurau terakhir bersama temannya sebelum liburan datang. Setelah beberapa saat satu persatu dari siswa di kelas itu pun meninggalkan kelas. Begitu pula dengan Tama yang meninggalkan kelas dan kemudian menjempu Fina di kelasnya.

“Fina ada?” tanya Tama pada salah satu teman sekelas Fina.
“itu di belakang Tam.” jawabnya, “Finaiiii…. dipanggil Tama.” teriaknya memangil Fina.
Kemudian Fina pun mengambil tas dan menghampiri Tama, “sudah selesai kamu?” tanya Tama.
“sudah kok, ayo pulang.” Jawab Fina sambil memegang tangan Tama mengajak pulang.
“siaap neng.” Jawab Tama dengan nada ceria.

Mereka pun berjalan menuju parkiran sepeda sambil bercanda dan beranjak pulang ke rumah. Hari ini merupakan hari terahir pasangan ini di sekolah sebelum mereka menikmati liburan semester ganjil yang segera akan datang. Liburan sekolah pun telah datang, dan pada waktu-waktu itu adalah waktu dimana kita dapat bertemu dengan kawan-kawan lama kita setelah lama tak jumpa. Begitu pula dengan Fina, waktu liburan ini dimanfaatkannya untuk bertemu dan main bersama dengan teman lamanya semasa SMP.

Hari itu sudah memasuki pertengahan liburan sekolah. Dimana hari itu Fina akan bermain bersama teman lamanya semasa SMP. Sebelum ia berangkat bermain, Fina tak lupa meminta izin terlebih dahulu kepada Tama. Karena pasangan ini memiliki janji jika mau pergi ke mana pun dan dengan siapa pun, mereka harus bilang satu sama lain. Saat Fina pergi dengan teman lamanya semasa SMP Tama berencana pada hari itu juga akan pergi dengan saudaranya ke pantai.

“sayang, aku mau pergi sama temen SMP ya.” Tanya Fina kepada Tama.
“mau ke mana yang?” jawab Tama sambil balik bertanya pada Fina.
“belum tahu yang, kata temenku kumpul dulu baru kita maen.” jawab Fina.
“iya sudah kalau begitu.” jawab Tama. “hati-hati, dan jangan macem-macem.” kata Tama pada Fina.
“iya sayaaang, gak bakalan macem-macem kok aku.” jawab Fina dengan meyakinkan Tama. “Ya sudah aku berangkat ya.”
“iya sayang, Hati-hati.” Ujar Tama pada kekasihnya itu.

Pukul 12 tepatnya siang itu, Tama dan kedua saudaranya akan bergegas bermain di salah satu pantai yang terkenal di kotanya. Di sana Tama sejenak merefresh otak dengan bercanda ria dengan saudara dan mandi di pantai. Sementara Fina pun yang juga sedang bermain dengan temannya semasa SMP memilih untuk pergi ke Taman Nasional yang trletak tidak jauh dari rumahnya. Tak disangka saat Fina menuju ke rumah temannya ia meihat mantan pacar juga berada di sana. Dia pun sedikit terkejut akan keberadaan mantan pacar yang sedang duduk dan mengobrol dengan temannya itu. Saat itu pun Fina langsung bertanya kepada Intan salah satu teman yang ada di luar rumah.

“loh kok ada dia sih di sini?” tanya Fina dengan nada yang jengkel. “loh emang kenapa Fina? Dia kan juga teman kita.” jawab Intan dengan nada santai.
“aku gak mau, anter aku pulang aja deh sekarang.” ujar Fina dengan menarik tangan Intan untuk meminta agar mengantarkannya pulang. “kamu kok gitu sih Fin, kita kan udah lama kumpul, jadi apa salahnya? Lagi pula Tama uga gak bakalan tahu kok.” jawab Intan dengan meyakinkan Fina.
Ketika Intan dan Fina sedang mengobrol di luar rumah, tiba-tiba Dio mantan Fina itu ke luar rumah dan menyapa Fina. “hay Fin, ayo masuk.” sapa Dio pada Fina. “ohh iya.” jawab singkat Fina pada Dio dengan nada yang datar.

Kemudian Intan pun memaksa Fina untuk tetap masuk ke rumah yang di sana terdapat mantan pacarnya itu. Dengan sedikit terpaksa Fina pun terbujuk oleh rayuan Intan itu. Saat sedang berada di rumah terjadi obrolan-obrolan antara kawan lama yang sudah beberapa tahun tak pernah kumpul bersama itu. Dengan berjalannya waktu Fina pun luluh karena terlalu asyik masuk dalam kenangan masa lalunya. Dia pun lupa dengan Tama dan dengan janji manisnya itu.

Selang beberapa menit mereka pun berangkat ke tempat di mana mereka akan tuju. Dan tak disangka, ternyata Fina berboncengan dengan mantan pacarnya itu. Dia tidak memikirkan betapa sakit hati Tama jika dia mengetahui akan hal ini. Saat sedang berada di jalan Fina dan Dio pun mengobrol dengan asyik, bercanda, dan tak sengaja saat jalan sedang tidak bagus Fina berpegangan pada pinggul Dio.

Di situlah kenangan masa lalu Fina kembali terukir. Kenangan yang lama telah ia lupakan namun kembali muncul. Tak sungkan-sungkan saat berjalan menikmati tempat wisata yang mereka kunjungi, Fina dan Dio berada di belakang teman-temannya dan berpegangan tangan. Layaknya seseorang yang sedang memadu kasih, begitu mesranya mereka berdua di sore nan indah itu. Hinnga terdengar suara seseorang teman Fina yang membuat wajahnya memerah, “uhuyyy, bakalan ada yang CLBK nih.” kata Intan pada Fina. “ahh ngaco kamu, udahlah ayo pulang udah sore nih.” jawab Fina pada Intan.

Senja telah datang, sang sinar surya pun perlahan bersembunyi di ujung barat planet yang disinggahi makhluk ciptaan Tuhan ini. Begitu juga dengan Fina dan teman-teman seperjuangan semasa SMP-nya pun beranjak pulang ke rumah masing-masing. Selama di perjalanan Fina dan Dio asyik dengan obrolan mereka. Betapa sakitnya Tama jika mengetahui akan hal ini. Orang yang dia percaya akan janji yang telah diucapkan, ternyata mengingkari dengan mudah dan tidak memikirkan perasaannya.

Sementara itu Tama pun telah sampai di rumah. Dia membawa serangkaian bunga yang telah ia rangkai sendiri dengan kedua tangannya. Bunga itu ia dari rerumputan yang ada di sekitar pantai yang ia kunjungi tadi sore. Namun saat ia akan menghubungi Fina, baik sms, telepon, ataupun BBM tak ada satu pun yang terbalas. Tama pun bimbang, bingung, dan gelisah memikirkan kekasihnya itu. Ia takut akan hal buruk yang terjadi pada Fina. Sampai akhirnya Tama memutuskan untuk menghampiri Fina ke rumahnya malam itu. Di perjalanan ia bertemu dengan Intan teman Fina dan juga merupakan teman satu SMA dengan Tama. Kemudian ia memanggil Intan dan bertanya mengenai Fina.

“loh Intan, kamu tadi sama Fina kan? Fina di mana, kok aku hubungi gak dibales-bales sama dia?” tanya Tama dengan wajah yang sangat bingung. “emm.. emmm.. dia tadi udah aku anterin pulang kok Tam, terus ini aku ke luar lagi.” jawab Intan dengan ekspresi wajah yang kebingungan.
“serius kamu? Berarti sekarang dia udah ada di rumah?” kembali Tama bertanya pada Intan.
“iya sepertinya sih begitu.” jawab Intan yang sekaligus membuat Tama semakin curiga dengan Fina.
“ya sudah terima kasih ya Intan.” Jawab Tama sambil meninggalkan Intan dan menuju kerumah Fina.

Saat di perjalanan, Tama pun berpikir negatif dengan Fina. Ia takut hal yang selama ini ia khawatirkan benar-benar akan terjadi. Dia pun terus menancap gas motornya. Dengan keadaan tangan kirinya membawa rangkaian bunga yang akan ia berikan kepada Fina. Sesampainya di rumah Fina, Tama mengetuk pintu rumah itu. Namun tak ada seseorang pun yang membukakan pintu. Tama pun memutuskan untuk menunggu Fina pulang dan ia duduk di depan rumah Fina dengan perasaan yang sangat gelisah.

Satu jam terlewati. Namun kekasih yang ia tunggu tak kunjung datang. Sampai Tama berpikiran akan pulang karena Fina tak nampak di depannya. Selang beberapa saat, Tama memutuskan untuk pulang dan menaruh serangkaian bunga yang ia bawa untuk Fina di depan pintu rumahnya. Namun ketika Tama akan beranjak menuju motornya, terdengar suara motor dan merdunya tawa yang tak asing di telinganya. Tak disangka, hati Tama benar-benar hancur di malam itu.

Seorang gadis yang ia dambakan, yang ia sayangi, bahkan ia percaya bahwa suatu saat nanti akan menjadi ibu dari anak-anaknya malam itu berboncengan mesra dengan pria lain yang ia ketahui adalah mantan pacar Fina. Melihat pemandangan itu, mata Tama pun mulai memanas, dan hatinya seperti terjatuh dari langit yang paling tinggi. Namun Tama masih sanggup menahan amarahnya di kala itu. Ia pun segera meghidupkan mesin sepedanya dan beranjak pulang. Saat Tama akan menghidupkan mesin sepeda, Fina turun dari sepeda mantan pacarnya dan berdiri di depan Tama yang sekaligus membuat Tama mengurungkan niatnya untuk pulang.

“Aku bisa jelasin semua sayang.” Kata Fina dengan nada yang sangat memohon kepada Tama.
“aku sudah tahu semua kok, jadi kamu gak usah repot-repot untuk ngejelasin semuanya.” jawab tama dengan santai.
“aku gak bermaksud nyakitin kamu Tama. Aku sayang sama kamu.” kata Fina dengan menangis.
“sudahlah. Jika kamu memilih untuk ini, jalani akan hal yang kamu pilih. Aku percaya mungkin dia akan membuat kamu lebih bahagia. Dan maaf jika selama ini aku kurang membuatmu bahagia.” kata Tama dengan air mata yang mengalir di matanya, “Dio, jaga Fina baik-baik ya.” Kata terakhir Tama dan kemudian ia menghidupkan sepeda dan beranjak pulang. Fina pun berteriak sambil menangis memanggil Tama, dan Dio mencoba menenangkan Fina namun Fina malah marah dan menyurh Dio pulang.

“Tamaaaaa.” Teriak Fina memanggil Tama.
“sudah Ze, gak usah nangis. Dia pasti bakalan kembali kok.” kata Dio menenangkan Fina.
“sudahlah kamu gak usah ikut-ikut. Gara-gara kamu semua jadi hancur. Pulang kamu, cepet pulaaaang!” ujar Fina pada Dio yang membuatnya pulang meninggalkan Fina.

Sambil menangis Fina masuk ke rumah. Saat sedang berjalan menuju pintu rumah Fina terkejut melihat serangkaian bunga yang berada di depan pintunya. Kemudian ia mengambil bunga itu dan menciumnya. Seketika air mata mengalir deras dari mata cantiknya itu. Ia pun sangat menyesal akan kejadian yang ia lakukan hari itu. Ia pun mencoba menghubungi Tama namun tak ada satu pun yang terbalas.

Sementara itu Tama dengan perasaan hancur telah sampai di rumahnya. Dalam hati ia berkata, “Ya Tuhan kenapa aku harus merasakan sakit yang begitu dalam? Kenapaaa.” Sambil terdiam ia mengingat kenangan-kenangan indah semasa ia dengan Fina sebelum hal yang membuat hatinya hancur terjadi. Dan pada malam itu pun ia memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Fina, ia akan pun berjanji untuk melupakan seorang wanita yang telah mengkhianatinya. Ia pun meyakinkan dirinya bahwa dia pasti akan berhasil dan menghapus semua kenangan yang ada.