Aku Rindu Ibu

Thursday, February 4, 2016

Aku Rindu Ibu

Cerpen Karangan : Puput Minanti

Jam berdeting makin cepat tanpa sarat, jantungku berdetak dag… dig… dug… bak pacuan kuda yang berenergi. Langit seperti menunjukkan suatu kesedihan kepada dunia, ilalang-ilalang sekitar jalan tak berterbangan, menunduk tak ada secercah harapan. Jarum pendek arlojiku menunjukkan pukul 20.00 tepat, tak sebuah kendaraan umum melaju, hanya beberapa kendaraan pribadi yang berlalu lalang, menambah sedikit kebisingan dalam kesunyian membawaku dalam lintasan bundar yang melayang. “Tidak, aku harus kuat. Aku harus pulang.” gerutuku dalam hati.

Ku kuatkan menempuh jarak 5 km dengan menahan perihnya kaki. Dua setengah jam kemudian, berdirilah aku istirahat sejenak di gubuk jalan setapak 10 menit lagi hampir sampai rumah. Sepi suasananya, jangkrik pun tak mau berceloteh, hanya gerimis yang membulatkan keberanianku. 7 meter dari arah pandangan sepertinya ada orang-orang berlalu lalang namun tak ramai jua, ada pula cahaya yang menyoroti depan rumahku. Nampak seorang lelaki tua duduk lemas tak berdaya, aku berlari terengah-engah menuju laki-laki tua itu.

Bendera putih berkibar terbawa angin yang menyapu gerimis malam itu, “ayah” ku panggil lelaki tua itu dengan lemah, apa ini beberapa tetangga mengelilingiku sembari menundukkan kepala. Seorang perempuan setengah baya berlari pelan memelukku, “kuatkan, tabahkan. Ini sudah menjadi takdir-Nya.” Bisik bibiku menenangkan. “Ibu, di mana Ibu…” teriakku lemah. Lihatlah lelaki tua itu hanya diam, menteskan air mata, tak tanggung-tanggung aku melaju menuju ruang tengah.

Nampaklah seorang yang terlihat cantik, bibirnya tertarik ke atas sedikit rambutnya panjang diikat rapi. Dia terbaring memejamkan matanya, diselimuti jarit dengan corak batik solo berwarna cokelat di atas karpet merah. Perlahan aku mendekatinya, memandanginya, membelainya, “Ibu aku pulang, Ibu, aku rindu Ibu aku…” teng suara jam klasik di dinding itu sontak membuatku terkejut dan menghentikan ucapanku. Pening rasanya, orang-orang terlihat sibuk membuat rangkaian bunga, menghitung kepingan logam lima ratus rupiah. Aku tahu itu biasanya akan ditaburkan di atas keranda, tapi aku tidak peduli aku merindukan ibuku, tak seorang pun bisa memisahkan aku darinya.

Fajar itu menyilaukanku, seolah membangunkan dari mimpiku. “Nazwa sayang, kau telah bermalam dengan Ibumu, biarkan Bibi mandikan Ibumu.” Aku hanya mengangguk. Semua prosesi persiapan pemakaman sudah selesai, ayahku sudah tua renta tidak mampu mengikuti ke pemakaman. Maka aku putri tunggalnya yang mewakili. Entah mengapa aku merasa kuat dan tegar mengantarkan ibuku sampai ke peristirahatan terakhirnya.

Berakhirnya semua itu, membuatku seperti rumah tak yang tak berfondasi, aku mampu meneduhkan ayahku yang tua renta namun aku mudah terombang-ambing situasi. Ayah dan ibuku menikah dikaruniai dua orang putri, usia kami terpaut jauh 15 tahun, maka tak heran bila ayah sudah tua di usiaku yang 23 tahun. Namun kini hanya aku yang masih bertahan, kakakku meninggal dunia di saat akan mengikuti ujian nasional beberapa tahun yang lalu.

Kala itu pukul 06.00 kakak mengantarku ke penitipan anak yang berjarak 250 meter dari sekolahnya, aku dititipkan karena ayah bekerja dan ibu berjualan di pasar. Kakak lupa memberikan aku uang saku, lalu aku berlari mengejarnya karena langkahnya sudah cukup jauh. Tanpa terdengar klakson sebuah mobil sedan berwarna putih melaju kencang, “tolong…” aku menutup mataku dengan tangan mungilku.

Perlahan mataku terbuka, langit atap yang ku lihat dikelilingi gangsing yang berputar, ternyata aku baru sadar. Hanya satu kata yang bisa aku ucapkan “kakak” namun hanya ibu yang terlihat mendekapku, menenangkanku, sepertinya aku bukan berada di rumahku sendiri. Suara tangisan dan rengekan anak kecil menggaduhkan ruangan kecil yang aku tempati. Hari berikutnya aku pulang, di sana nampak ayah dan orang-orang seisi rumah yang terlihat sedih. Mereka bilang kakakku pulang ke rumah yang lebih indah maka aku harus senang, aku tidak paham dengan makna itu.

Setelah 17 tahun sikap ibu berubah kepadaku, kasih sayangnya nampak berkurang. Seiring berjalannya waktu hubunganku dengan ibu tidak begitu baik, kami sering bertengkar karena aku lelah bersabar bahwa aku penyebab kematian Zeynep kakakku ayahlah yang selalu menjadi penengah kami. Hingga suatu hari dimana hari pertama aku bekerja setelah satu tahun lebih menganggur, ibu selalu berkata bahwa aku percuma dikuliahkan kalau-kalau hanya menganggur, dia selalu membandingkan aku dengan kakak Zeynep yang sangat pandai dan prihatin, tak seperti biasa kemarahanku kini meluap hingga terlontar kata-kata kasar untuk ibu.

“kau wanita tua, Ibuku. Seharusnya kau menyayangiku agar aku mau mengurusmu dalam kerentaanmu, kalau kau begini terus aku sudah tidak peduli lagi denganmu!” gertakku dalam amarah. Ibu terlihat kaget mengetahui aku berani melontarkan kata dan nada kasar. Aku berlari dalam kemarahan, dan bergulat dalam hati “apa aku berdosa? Ahh… wanita itu sering mendzalimiku, biarlah. Aku harus tunjukkan kalau aku bisa memberikan apa yang telah dia berikan kepadaku. Ini pekerjaanku yang sangat baik bonafide lagi, tentu gajiku bisa membelinya!”

Itulah yang aku ingat sebelum berangkat kerja, sehari sebelum ibu meninggalkan aku dan ayah untuk menyusul kakak. Aku merasa menyesal dan berdosa. Hari ini aku berjanji untuk ibu aku akan mengurus ayah dengan baik, mengunjungi makam kakak dan ibu tiga bulan sekali, dan selalu mendoakan mereka. Tidak bisa berbuat lebih dari itu, jika aku mengingkari janjiku terhadap ibu maka aku hanya bagaikan seonggok daging tidak bertulang, dalam jiwa yang lemah atas dosaku terhadap ibuku. “Aku sayang Kakakku Bu, dan aku sangat merindukanmu Ibu, aku rindu Ibu.”