Cerpen Karangan : Destia Eka Putri
Lolos moderasi pada : 16 November 2015
Semenjak hari itu, aku merasa semuanya telah berubah. Kehidupanku yang ceria seakan pudar perlahan. Semakin hari kondisi kesehatanku semakin menurun, atau mungkin bisa dibilang memburuk. Aku sering merasa -sangat- mudah lelah, mual, pusing, sesak napas, bahkan seperti kehilangan napas dan kesadaran secara tiba-tiba. Suatu hari aku merenung. “Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?”
Sampai tiba pada saat ulangan tengah semester, aku masih saja berada dalam kondisi yang lemah. Di hari pertama aku menguatkan diri untuk ikut ulangan tengah semester. Awalnya aku bisa bertahan di sana, namun hal buruk terjadi sepulang sekolah. Aku pingsan di jalan.
“Dev, bangun. Sadar, Dev,” aku mendengar suara sayup Tita.
Namun aku tak ingat apa-apa. Yang ku ingat hanyalah, hitam. Aku tak sadarkan diri. Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, saat aku terjaga ku lihat Mama dengan cemas mendampingi aku. Setelah sadar, aku dibawa pulang ke rumah.
Hari kedua ujian tengah semester, aku masih berusaha menguatkan diri, meskipun untuk membawa badan sejauh satu meter saja napasku sudah tersengal. Baru sampai aku di ujung koridor, aku tak bisa berjalan dan merasa kehabisan napas.
“Oh, Tuhan, padahal Papa sudah mengantarku ke sekolah yang tidak seberapa jauh ini. Kalau bahasanya Papa sih ‘sekali narik gas motor, langsung nyampe ke sekolah’,” gumamku.
Berhubung aku sudah seperti tidak bisa diselamatkan lagi, akhirnya pihak sekolah menelepon kedua orangtuaku, dan aku dibawa pulang. Alhasil, aku tidak mengikuti ulangan tengah semester. Hari itu juga aku langsung dibawa ke rumah sakit.
Setelah diperiksa, aku divonis mengidap komplikasi. Aku dirawat di rumah sakit dan harus minum obat selama enam bulan.
“Benar-benar membosankan sekali, harus menghabiskan waktu bersama obat-obat itu,” gumamku.
Sekali lagi aku harus menerima kenyataan pahit, hal ini semakin membuatku berpikir kalau aku memang sudah berbeda dari anak-anak lain seumuranku. Aku mencoba menguatkan hati menghadapi semuanya.
“Ma, sampai kapan aku harus di sini? Devi mau pulang, Ma,” rengekku pada Mama.
“Sabar, nak. Kamu baru boleh pulang kalau kamu udah sembuh. Paling enggak kamu kuat jalan walaupun cuma sebentar,” ujar Mama.
Mendengar jawaban dari Mama, yang aku pikirkan hanya “sembuh” aku ingin sembuh. Aku berharap ada kemajuan yang terjadi pada diriku setiap harinya. Tapi entah mengapa, Tuhan seakan berkata lain. Apa yang terjadi bukan seperti apa yang ku harapkan. Tubuh ini tidak menunjukkan adanya perubahan baik, aku semakin melemah.
“Dev, kamu nggak apa-apa?” tanya Tita yang hari itu menjengukku.
“Aku nggak apa-apa kok,” aku menjawab dengan seulas senyum.
“Kata Mama, seharian ini selang oksigen nggak lepas dari kamu. Aku takut, Dev,”
“Aku baik-baik aja. Aku titip semuanya sama kamu ya?!” ujarku.
“Kamu ngomong apa sih, Dev!” Tita menguatkan nada bicaranya.
Aku hanya memberikan senyum yang mungkin terkesan dipaksakan. Rasanya saat itu tenagaku sudah benar-benar hilang. Ditambah aku yang memikirkan banyak hal, terutama pertengkaran orangtuaku yang sempat aku dengar sebelumnya. Itu menjadi beban buatku sampai saat ini.
Setelah percakapan terakhirku dengan Tita tadi, rasanya aku juga tidak mengingat apa-apa lagi. Hanya rasa sakit yang sangat hebat yang ku rasakan sekejap, lalu hilang. Jiwa ini melihat orang-orang terdekatku menangis di dekat tubuhku. Oke, yang Maha Kuasa sudah memanggilku. Mungkin penderitaan dan waktuku di dunia sudah habis. Tapi seandainya aku masih bisa berharap pada Tuhan, aku hanya akan meminta pada-Nya, kembalikan senyumku.
Lolos moderasi pada : 16 November 2015
Semenjak hari itu, aku merasa semuanya telah berubah. Kehidupanku yang ceria seakan pudar perlahan. Semakin hari kondisi kesehatanku semakin menurun, atau mungkin bisa dibilang memburuk. Aku sering merasa -sangat- mudah lelah, mual, pusing, sesak napas, bahkan seperti kehilangan napas dan kesadaran secara tiba-tiba. Suatu hari aku merenung. “Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?”
Sampai tiba pada saat ulangan tengah semester, aku masih saja berada dalam kondisi yang lemah. Di hari pertama aku menguatkan diri untuk ikut ulangan tengah semester. Awalnya aku bisa bertahan di sana, namun hal buruk terjadi sepulang sekolah. Aku pingsan di jalan.
“Dev, bangun. Sadar, Dev,” aku mendengar suara sayup Tita.
Namun aku tak ingat apa-apa. Yang ku ingat hanyalah, hitam. Aku tak sadarkan diri. Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, saat aku terjaga ku lihat Mama dengan cemas mendampingi aku. Setelah sadar, aku dibawa pulang ke rumah.
Hari kedua ujian tengah semester, aku masih berusaha menguatkan diri, meskipun untuk membawa badan sejauh satu meter saja napasku sudah tersengal. Baru sampai aku di ujung koridor, aku tak bisa berjalan dan merasa kehabisan napas.
“Oh, Tuhan, padahal Papa sudah mengantarku ke sekolah yang tidak seberapa jauh ini. Kalau bahasanya Papa sih ‘sekali narik gas motor, langsung nyampe ke sekolah’,” gumamku.
Berhubung aku sudah seperti tidak bisa diselamatkan lagi, akhirnya pihak sekolah menelepon kedua orangtuaku, dan aku dibawa pulang. Alhasil, aku tidak mengikuti ulangan tengah semester. Hari itu juga aku langsung dibawa ke rumah sakit.
Setelah diperiksa, aku divonis mengidap komplikasi. Aku dirawat di rumah sakit dan harus minum obat selama enam bulan.
“Benar-benar membosankan sekali, harus menghabiskan waktu bersama obat-obat itu,” gumamku.
Sekali lagi aku harus menerima kenyataan pahit, hal ini semakin membuatku berpikir kalau aku memang sudah berbeda dari anak-anak lain seumuranku. Aku mencoba menguatkan hati menghadapi semuanya.
“Ma, sampai kapan aku harus di sini? Devi mau pulang, Ma,” rengekku pada Mama.
“Sabar, nak. Kamu baru boleh pulang kalau kamu udah sembuh. Paling enggak kamu kuat jalan walaupun cuma sebentar,” ujar Mama.
Mendengar jawaban dari Mama, yang aku pikirkan hanya “sembuh” aku ingin sembuh. Aku berharap ada kemajuan yang terjadi pada diriku setiap harinya. Tapi entah mengapa, Tuhan seakan berkata lain. Apa yang terjadi bukan seperti apa yang ku harapkan. Tubuh ini tidak menunjukkan adanya perubahan baik, aku semakin melemah.
“Dev, kamu nggak apa-apa?” tanya Tita yang hari itu menjengukku.
“Aku nggak apa-apa kok,” aku menjawab dengan seulas senyum.
“Kata Mama, seharian ini selang oksigen nggak lepas dari kamu. Aku takut, Dev,”
“Aku baik-baik aja. Aku titip semuanya sama kamu ya?!” ujarku.
“Kamu ngomong apa sih, Dev!” Tita menguatkan nada bicaranya.
Aku hanya memberikan senyum yang mungkin terkesan dipaksakan. Rasanya saat itu tenagaku sudah benar-benar hilang. Ditambah aku yang memikirkan banyak hal, terutama pertengkaran orangtuaku yang sempat aku dengar sebelumnya. Itu menjadi beban buatku sampai saat ini.
Setelah percakapan terakhirku dengan Tita tadi, rasanya aku juga tidak mengingat apa-apa lagi. Hanya rasa sakit yang sangat hebat yang ku rasakan sekejap, lalu hilang. Jiwa ini melihat orang-orang terdekatku menangis di dekat tubuhku. Oke, yang Maha Kuasa sudah memanggilku. Mungkin penderitaan dan waktuku di dunia sudah habis. Tapi seandainya aku masih bisa berharap pada Tuhan, aku hanya akan meminta pada-Nya, kembalikan senyumku.