Karena Cinta yang Membawaku Kembali

Thursday, February 18, 2016

Karena Cinta yang Membawaku Kembali

Cerpen Karangan: Sofwan Edelweis

Sepasang kekasih yang sebut saja namanya Febry dan Fitry menjalin cinta cukup lama.Berjanji ingin sehidup semati, namun mereka baru sama-sama menginjakan kaki di sekolah menengah atas (SMA). Butuh waktu yang lama untuk melanjutkan kisah cinta mereka ke jenjang yang serius. Walau sudah menjalin tali kasih kurang lebih 3 tahun , tapi harapan kuat untuk selalu bersama tetap mereka jaga.
Mereka menjalani hidup begitu indah penuh canda dan tawa. Seakan tak ada rasa khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan. Fitry begitu ingin untuk bersama dan selalu bertanya. “Apakah Febry benar-benar tulus dan yakin untuk selalu bersamanya.?” Mereka sering kali menghabiskan waktu bersama saat pulang sekolah. Bercanda tawa di taman dekat sekolah. Terkadang tak terasa waktu berjalan membuat mereka telat pulang kerumah. Orangtua Fitry marah karena anaknya sering pulang terlambat.

Keesokan harinya, seperti biasa mereka bermain bersama saat pulang sekolah. Fitry selalu menanyakan “Apakah Febry benar-benar tulus mencintainya dan ingin bersamanya selamanya.?” Hanya pertanyaan itu yang selalu dia ulang setiap mereka bertemu. Sehingga membuat Febry merasa jenuh dan merasa dirinya terikat oleh pertanyaan-pertanyaan untuk masa depan.

Tanpa terasa waktu sudah menjelang sore Febry mengantarkan Fitry kerumahnya. Itu lah saat pertama kali Febry bertemu dengan orang tua Fitry. Walau sudah berpacaran cukup lama, namun Febry tidak pernah datang untuk bertemu dengan orangtua Fitry.

“Assalamualaikum” Penuh dengan rasa senang Fitry mengucapkan salam.
“Walaikumsalam.!” Jawab laki-laki sepruh baya dengan nada tinggi.
“Papa. Kenalin ini teman aku. Namanya Febry”
“Sore Om. Aku Febry” Dengan rasa takut Febry mencoba untuk berjabat tangan.
“Ooo. Kamu yang namanya Febry. Yang sering bawa anak saya keluyuran. Jam segini baru pulang!” Orangtua Fitry langsung marah dan menghiraukan tangan Febry yang ingin berjabat tangan.
“Iya. Maaf om.” Jawabku singkat tanpa menjelaskan satu apapun.
”Gak ko pa’. Dia itu baik ko” Fitry mencoba untuk member pembelaan.
“ Diam kamu. Sekarang kamu masuk ke kamar. Dan kamu pergi!! Jangan mencoba untuk kesini lagi.!! ” Orangtua Fitry terlihat semakin sangar mengusir Febry.

Setelah Febry pergi, orangtua Fitry masuk menghampirinya yang sedang menanggis di dalam kamar,

“Fitry!! Jangan pernah bawa laki-laki itu lagi kesini.” Suara keras itu
terdengar dari pintu kamar.
“Memangnya kenapa pak?? Bu?? Febry salah apa??” Fitry tak mengerti dengan sikap orangtuanya.
“Dia itu laki-laki yang tidak baik untuk kamu. Dan bapa tidak suka!!” Orangtuanya pergi dari hadapan Fitry dengan alasan yang singkat.

Penjelasan itu semakin membuat Fitry bingung. Fitry hanya bisa menangis dan tak mengerti kenapa orangtuanya begitu benci dengan Febry.

Keesokan harinya, Saat pulang sekolah Fitry mondar mandir mencari Febry. handphone Febry mati dan tidak bisa dihubungi. Akhirnya dia mencoba mencari ke taman dan ternyata langkahnya benar dia melihat Febry duduk sendirian dan berlari menghampirinya,,,
“ Sayang.. aku udah berkeliling mencari mu ternyata kamu disini” Suara perempuan itu mengejutkan Febry.
“ Iya maaff sayang. aku gak ngasih tau kamu” Jawab Febry sambil menoleh
kebelakang
“Kamu masih marah ya sama aku, gara-gara kejadian kemarin??” Fitry
langsung membuka pembicaraannya.
“Enggak,! Sudahlah lupain saja” Jawab Febry singkat.
“Maafin orangtua aku ya, aku juga gak ngerti kenapa mereka seperti itu. Tapi kamu masih cinta kan sama aku?! Dan cinta kita selamanya kan?!”
Fitry mencoba memberi sedikit penjelasan untuk meyakinkan Febry.
“Heemmm.. Maaf sayang. sepertinya aku gak bisa. Semua itu percuma orangtua mu sangat benci kepada ku.!” Sambil menundukan kepalanya.
“Kenapa?! Kamu mau nyerah gitu aja.. Mana janji mu selama ini untuk
selalu bersama ku.? Tapi ku yakin kita bisa tetap bersama!! Fitry memohon agar Febry bisa mempertahankan cinta mereka.
“ Maaf sayang. Simpan saja keyakinan mu mungkin ini lah jalan kita. Lupakan aku sekarang kita akhiri hubungan ini. Terima kasih untuk semua kasih sayang mu.” Hanya dengan jawaban singkat Febry pergi meninggalkan Fitry.
“Tapi aku gak mau pisah dengan mu saayyaanngg.!! Febry.! Aku sayang kamu..!!” Teriakan dan tangis Fitry tak dapat merubah keputusan itu.

Fitry pulang kerumah membawa perasaan yang hancur karna ditinggal oleh Febry. Dia hanya bisa menangis dalam kamar, mengenang masa-masa saat indah bersama Febry. Menghabiskan waktu di taman dengan penuh rasa cinta dan canda tawa. Tapi semua itu hanya tinggal kenangan dan tak mungkin terulang kembali. Malam semakin larut namun air matanya tetap mengalir membasahi pipi. Perasaan yang bercampur aduk mulai menghantui dirinya, seperti tak ada gunanya lagi dia hidup di dunia ini.

Selintas dia berfikir untuk mengakhiri hidupnya yang terasa sangat tidak berguna lagi. Namun dia merasa takut untuk melakukannya. Dalam perasaan yang hancur dan pikiran yang bercampur aduk, rasa itu semakin kuat menghantuinya. Tanpa berfikir panjang. Dia bangun dari tempat tidurnya dan mengambil seutas tali, lalu mengikatnya ke tiang pintu kamar. Dengan meneteskan air mata ia berjalan menuju kamar orangtuanya. ia melihat orangtuanya tidur sangat pulas dalam keadaan seperti itu air matanya bagaikan air terjun yang tak ada hentinya. “ Ibu, Bapak. Maffkan aku. Aku gak kuat menahan semua ini, mungkin ini jalan terakhir ku. Doakan aku semoga ku tenang disana. Aku mencintai kalian. Maafkan aku.!!” Fitry mulai beranjak dari kamar orangtuanya.

Setelah mencoba berfikir berulang kali, namun rasa itu lebih kuat menghantuinya.
Dia berdiri di atas kursi dan meletakan lehernya di tali yang sudah diikatnya. “ Febry,, kepergian ku kan datang untuk menjemputmu. Aku akan menebus janji untuk tetap bersama. Tunggu aku dalam tidur mu dan saat kau menutup mata.” Fitry menutup matanya. Dan akhirnya.??
“,,Menutup mata untuk selamanya.,,,”

Saat mata hari terbit, ibu Fitry berniat untuk membangunkan anaknya sekolah. ibunya memanggil-manggil dari dapur. Namun tak ada jawaban dari anaknya. Akhirnya ibunya memutuskan untuk menghampiri ke kamar anaknya. Sesampai di kamar betapa kagetnya sang ibu melihat anaknya tergantung tak bernyawa. Ibunya berteriak memanggil bapanya dan sang bapak yang menyaksikan keadaan anaknya hanya bisa terdiam seperti ada penyesalan yang mendalam terhadap anaknya. Sore itu pun juga Fitry dimakamkan di tanah keluarga dekat rumahnya. Namun peristiwa itu tidak sampai berhembus ketelinga Febry.

Febry yang sudah beberapa hari tak melihat adanya Fitry disekolah. Dia mulai bertanya-tanya. “Kemana Fitry? Apa yang terjadi padanya.?”, Setelah semingu Febry baru mendapat kabar dari wali kelas Fitry bahwa Fitry sudah pergi untuk selamanya dan kepergiannya diakhiri dengan cara yang sangat tragis. Mendengar kabar itu Febry hanya bisa meneteskan air mata. Sejuta penyesalan menggambarkan wajahnya yang dibasahi air mata.

Setiap hari Febry selalu memikirkan Fitry seperti bayangan Fitry begitu melekat dalam benaknya. Sampai akhirnya keadaan itu mempengaruhi pikiran dan kehidupannya. Setiap detik waktunya hanya ada Fitry.. Fitry.. dan Fitry..!! Febry merasa sangat bersalah namun sekarang hanya tinggal sebuah penyesalan yang tak kan pernah usai.

Suatu malam, biasanya Febry setelah belajar langsung tidur. Namun malam itu terasa beda. Dia tanpak gelisah pikirannya melayang entah kemana. Matanya sangat sulit untuk tidur dan akhirnya sampai larut malam barulah ia bisa tertidur. Namun saat tidur dia bermimpi. Fitry datang menjemputnya dan mengajak Febry untuk pergi bersamanya selamanya. Fitry ingin Febry menebus semua janji-janji yang telah mereka ikat saat masih bersama. Febry berteriak ketakutan dan akhirnya ia terbangun dalam mimpi yang kelam itu. Semua tubuhnya basah kuyub karena keringat dan rasa takut.

Hari demi hari mimpi itu selalu datang menghatui pikirannya. Seakan dirinya terikat oleh rantai yang tak mungkin bisa untuk ia lepaskan. Saat pulang sekolah Febry berjalan sendiri tibanya disebuah jembatan ia berhenti sejenak dan berteriak berharap semua pikiran yang menghantuinya akan hilang. Namun takdir berkata lain saat ia mencoba untuk melepaskan diri dari rasa yang selalu menghampirinya. tiba-tiba pandangannya terlihat gelap dan berkunang-kunang.

Dilihatnya di ujung pojok sungai seperti ada sosok Fitry yang datang memanggilnya dan mengajaknya untuk pergi bersama. Lambaian tangannya membuat tubuh Febry tak berdaya. Tanpa sadar Febry menyambut lambaian tangan tersebut dan melepaskan tubuhnya dari ketinggian jembatan. Hanya bebatuan sungai yang menanti kedatangan Febry menghembuskan nafas terakhirnya untuk pergi selama-lamanya.
“Apakah cinta mereka akan dipertemukan disana.??”
“Dan apakah ini kebahagian yang mereka cari selama ini.??”
Waallahuaalllammm. Aku pun tidak tah.!!

So. Cinta adalah anugrah dari yang maha kuasa, menjalin sebuah hubungan harus dengan niat yang baik, dan kuat kan iman anda jika anda tak ingin seperti ini, lemahnya iman membuat setan merajalela bermain dalam diri anda. Jangan takut untuk berpisah karena jodoh ditangan ALLAH.. Dan kembalilah kejalan ALLAH untuk sebuah keputusan..!!!

>>The End<<