Emak

Thursday, March 2, 2017

Emak

Cerpen Karangan: Elhefni


“Emak, aku berhasil!”.

Cukup satu kalimat itu saja isi suratku ke emak. Tanpa ba bi bu lagi isi suratku ke emak. Satu kata namun membuat emak di dusun terasa mendapatkan surga. Tak ada basa basi lagi yang membuat isi surat yang kukirim ke dusun berpanjang-panjang, seperti isi surat-surat yang selama ini sering kukirim.

Apa lagi, isi surat tersebut permintaan yang bakal membuat emak puyeng tujuh keliling. Setiap awal semester dan awal bayar kontrakan rumah pasti membutuhkan uang banyak terutama bagi emak. Emak pasti akan menggunakan rumus dan istilah yang sering digunakan oleh orang-orang besar, GBHN. Bagi emak GBHN adalah gawean belum selesai hutang numpuk.

Ketika aku mengenang Emak, aku akan meneteskan air mata. Emak orang dusun dan beliau punya keyakinan kalau anak nekat untuk sekolah tinggi, pasti ada jalan keluar yang menurut beliau itu maunya Allah, hutang sekalipun menurut emak itu adalah rizki yang diberikan-Nya.

Tak ada keinginan emak yang paling tinggi selain menginginkan anaknya dapat sekolah setinggi-tingginya. Kata emak, tak ada peninggalan yang dapat ditinggalkan selain ilmu. Emak ingat ucapan Ustadz tempatnya cawisan di masjid. Kata Ustadz, “Kalau kita punya ilmu, ilmu itu akan menjaga kita dari perbuatan yang tidak benar menurut agama, sehingga selamat di dunia dan akhirat. Kalau kita punya harta banyak, kita yang akan menjaga harta itu”.

Untuk itu, emak tidak mau meninggalkan harta untuk anaknya. Di samping emak memang tidak punya harta. Emak juga agak miris melihat orang-orang kaya yang meninggalkan harta pada anaknya dan pada akhirnya antara orangtua dan anak serta antara anak dengan anak terjadi keributan.

Emak sebagai orang dusun hanya berpikir, nanti kalau emak sudah menghadap Sang Pencipta, siapa yang mau mendoakannya kalau anaknya hanya memikirkan harta. Kapan anaknya dapat menyambanginya dengan doa-doa yang dapat membuatnya tenang di alam baqa.

Itulah Emak. Emak mungkin tidak akan serepot dulu sekarang kalau aku sudah selesai seperti ini. Dulu setiap aku mau berangkat meninggalkannya ke kota karena masa liburan kuliahku selesai atau setiap aku pulang. Emak akan membuatkanku nyanyian yang sangat merdu jika kuingat sekarang, dan iramanya tak akan berhenti kalau belum dikatakannya. “Emak percaya, kamu sekolah dengan benar. Jika kamu tidak benar sekolah yang rugi kamu sendiri, masa depanmu juga yang terganggu. Emak tidak punya apa-apa, yang ada harapan bahwa kamu selesai sekolah setinggi-tingginya dan menjadi orang yang benar, berguna bagi agamamu, bangsa dan negaramu“ begitu nyanyian Emak setiap aku mau meninggalkannya. Dan jawabku “Mak, doakan saja anakmu selamat dan berhasil di rantau orang”.

Selain itu, Emak juga punya ciri khas jika aku mudik menemuinya. Bila aku akan berangkat meninggalkannya untuk merantau. Emak tak lupa menitipi aku sebungkus nasi dengan dibungkus daun pisang yang diambilnya dari belakang rumah dan disertai dengan pernak-perniknya. Sehingga tasku penuh membawa oleh-oleh dari dusun. Kata Emak, “Harga di dusun masih murah dibandingkan di kota”.

“Emak, aku berhasil!”.

Perjuangan selama lima tahun telah membawa hasil. Aku seorang sarjana sekarang.

Cerpen Karangan: Elhefni
Facebook: Elhefni

2 komentar

Ninggalin Jejak
https://www.youtube.com/channel/UC9TX9sXck1iYl-a8DK4piQg

Reply

makasih kunjungannya gan :-d

Reply